Pulau Mubut - Menanti Sunrise di Pulau Mubut Darat

Desember 15, 2015 Hijab Traveller 6 Comments

Saya bergabung di sebuah komunitas yang bernama anak pulau, tanpa terasa sudah hampir setahun komunitas ini terbentuk, karena namanya anak pulau, sudah barang pasti kegiatannya tidak jauh dari pulau, salah satu tujuan di bentuknya komunitas ini adalah supaya anak lokal bisa lebih mengenal pulau kecil yang tersebar di wilayah Kepri (Kepulauan Riau), selain itu juga bersama kita bisa membantu meningkatkan minat wisatawan untuk lebih mengenal Kepri dan membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar, dengan menyewa alat transportasi laut berupa boat, dan membeli makanan yang mereka jajakan serta menyewa penginapan sederhana yang mereka sediakan.

Sunrise di pulau Mubut Darat "Pulau tidak berpenghuni"

Happy 1st Anniversary Anak Pulau

Untuk merayakan hari jadi komunitas anak pulau, atas saran teh Lina blogger senior, kami diarahkan pergi ke pulau Mubut. Pulau Mubut sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Mubut darat dan Mubut laut, letaknya berdepanan dengan desa Sembulang, desa Sembulang sendiri letaknya diantara jembatan 4 menuju jembatan 5 Barelang, gerbangnya berwarna kuning disebelah kiri jalan, dari gerbang dibutuhkan perjalanan 15 menit untuk mencapai desa Sembulang, sementara untuk mencapai pulau ini, kita harus menyeberang menggunakan boat dan dikenakan biaya 40ribu untuk perjalanan PP.
 Sunset di pelabuhan Sembulang
Perkiraan kami sampai di pelabuhan Sembulang adalah jam 4, tetapi dikarenakan drama menunggu dan 1 rombongan mobil nyasar sampai ke Jembatan 6, akhirnya kami berangkat jam 5 lewat, begitu sampai pulau, hari sudah mulai gelap dikarenakan pulau Mubut Darat yang kami datangi ini tidak berpenghuni, jadi suasananya gelap gulita, Hadeeeh.. awalnya saya sempat dag dig dug serrr.

Untungnya di Pulau Mubut Darat ini sudah tersedia beberapa gazebo untuk beristirahat dan meletakkan barang bawaan kita, di pulau ini untuk pertama kalinya saya mencoba sholat di alam terbuka, semilir angin yang lembut menyentuh kulit membuat saya berucap syukur karena sudah diberikan kesempatan untuk merasakan sensasi berbeda dalam beribadah memohon ampunan kepada pencipta alam dan seluruh isinya, Alhamdulillah.
Suasana pada saat pertama kalinya sampai di pulau Mubut
Langit semakin pekat, pertanda malam telah tiba, api unggun pun telah siap dihidupkan, saatnya kami memulai membentuk lingkaran, mendengarkan curhat dan keluhan masing masing personil dan saling memaafkan, karena dalam sebuah perkumpulan, sudah pasti ada yang pernah cek cok atau salah dalam berkata kata, intinya dalam setahun kita sudah mulai paham akan watak teman kita, memulainya dengan saling memaafkan dan membuka lembaran baru tentunya tidak akan menjatuhkan harga diri masing masing, justru dengan adanya sebuah perkumpulan kita bisa saling belajar dari setiap kesalahan yang pernah terjadi, dan memperbaiki diri untuk kedepannya. Setelah itu kami potong kue, simbolis hari jadi anak pulau.

Malam sudah semakin larut, kami mempersiapkan diri untuk tidur, ada 17 orang, 4 orang tidur ditenda, selebihnya tidur di gazebo yang paling besar, tiba tiba ada yang berteriak, ikan biliiiiissss, banyaaaakk!! dengan rasa penasaran akhirnya saya menuju bibir pantai, benar saja ternyata perairan pulau Mubut masih sangat jarang dijamah orang, ikan bilis pun asik mengikuti lampu senter hape yang teman saya arahkan, kemudian saya balik lagi untuk merebahkan badan yang mulai lelah. Tengah malam terdengar rintik hujan  menerpa atap daun kelapa, tempat peristrahatan kami. Walaupun sudah larut tetap saja ada yang berisik -____- alhasil saya terlelap setelah jam 3 subuh, kemudian jam 5.40 bangun lagi untuk sholat, setelah itu kami beramai menanti sunrise.
yeeeyy, sunrise

Gundukan pasir ini akan hilang sewaktu air pasang
 yeyeye lalalala
 Ini balonku, mana balonmu? uni Yanti, ce Siawthing and Ms Yuni
eak, pelampung cantik ikutan eksis
Pasir putih sepanjang pantai

Pantai pasir putih tampak dari kejauhan

Beberapa dari mereka sudah berhamburan menikmati segarnya air laut di pulau Mubut, lalu saya juga segera menyusul mereka untuk menceburkan diri diperairan jernih pulau Mubut, seumur hidup baru sekali saya benar benar menanti matahari terbit, sholat dialam terbuka, dan untuk pertama kalinya saya berhasil mengapung tanpa menggerakkan tangan maupun kaki, belajar terjun ala ala perenang handal tapi gagal, lalu saya bisa tidur diantara air dan menatap birunya langit, kemudian mengajarkan dua orang sahabat saya, Yanti dan Eka Dewi ^-^ puas berenang sampai tangan dan kaki mengembang akhirnya kami bersiap untuk pulang, tapi apa mau dikata, butiran air yang turun dari langit mulai membasahi bumi dengan derasnya, jadwal pulang jam 9 jadi ngaret ke jam 11, dikarenakan hujan dan rumah saya yang letaknya cukup jauh, akhirnya saya sampai dirumah jam setengah 3 sore, Sekian cerita pulau Mubut ^-^

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. jauh sebelum itu saya sudah mersakan,hahahahaha
    tapi kyknya sekarang lebih bagus dari pada dulu
    http://rezkymedia.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoho, skrg udah lebih bagus, air lautnya seger bangeett..

      Hapus
  4. melihat sunrise di pantai dan di puncak gunung sama-sama mengagumkannya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuuu, mau dimanapun yang judulnya sunrise & sunset, pasti super duper keren.

      Hapus