Pesona Blue Fire Kawah Ijen Beserta Kehidupan Para Penambang Belerang

Januari 19, 2017 Hijab Traveller 12 Comments

Selasa sore, di sebuah homestay dekat stasiun, kami berlima bersiap re-packing ulang segala macam isi dari dalam tas untuk mendaki Kawah Ijen. Setelah siap, kami lanjut untuk mencari makan malam supaya lebih bersemangat menjalani hari, selesai makan kami balik lagi ke penginapan buat istirahat sebentar. Saat yang lain sudah tertidur, gue baru siap mandi dan memaksakan diri untuk tidur walaupun mata susah diajak kompromi, selang 10 menit gue sukses memejamkan mata. Baru aja terlelap dalam mimpi, kemudian sayup sayup terdengar ada suara yang manggil nama gue..

"Ka, bangun ka,
 kita mesti berangkat" ucap Eka Dewi.

Tanpa terasa, jarum jam sudah bergerak ke angka 10.40 malam. Gue bangun dan bersiap secepat kilat. Setelah semuanya ready, kami langsung menaiki mobil menuju Pos Paltuding. Jalanan menuju Pos Paltuding hampir mirip sama jalanan menuju Kawah Bromo, beraspal kecil, sunyi, gelap, tanpa ada lampu penerang jalan. Berasa horror deh cyiiin kalo naik motor dan itu cuma berdua, kalau ada yang terbang dari atas sambil ketawa ketiwi, piye?  *krik krik*.

Kawah Ijen - Banyuwangi

***

Rabu, 14 Desember 2017 pukul 00.20 pagi, kami sudah sampai di Pos Paltuding. Udara dingin terasa meresap masuk kedalam kulit melalui pori pori saat kami sampai di lokasi. Setelah turun dari mobil, muncul beberapa orang pedagang yang menjajakan perlengkapan untuk mendaki Kawah Ijen. Lalu kami berjalan menuju warung untuk menghangatkan diri dengan memesan teh panas beserta gorengan. Sembari menunggu waktu, kami sempat bertanya kepada ibu pemilik warung. Bu, adakah penambang belerang yang bersedia untuk menjadi guide kami? Oh, ada mba, sebentar ya "sahut si ibu".

Tak lama berselang, datanglah seorang pria paruh baya yang mengenalkan diri, namanya pak Bahri yang menawarkan jasanya mengantar para pendaki menuju Kawah Ijen dengan harga 150rb per trip. Sebenarnya tanpa guide kita juga bisa sampai ke atas, tapi ga ada salahnya kita sedikit meringankan beban para penambang belerang dengan menyewa jasa mereka, karena kita juga ga setiap hari pergi kesana. Sehari kita meringankan beban penambang, insyallah akan mengurangi rasa sakit yang mereka pikul dipundaknya. Karena saat itu berlima, per orang cukup membayar 30ribu saja, bagi kita uang segitu cukup untuk makan sekali lewat diluar, tapi bagi pak Bahri dan penambang lainnya itu sebuah rejeki yang *tafsirin sendiri yah*.

Ngeteh di Warung Bu Im

Pukul 1.00 pagi gerbang pendakian dibuka. Untuk bekal di atas kami hanya membawa 1.5liter air untuk masing masing orang, beberapa cemilan dan 2 buah sleeping bag untuk berjaga jaga, mana tau di atas ada yang kondisi badannya drop dan kedinginan. Ini adalah pengalaman pertama gue mendaki disaat keadaan gelap, I really miss that moment. Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, gue mulai merasa gerah,sarung tangan beserta jaket langsung gue lepas dan dimasukin kedalam tas. Keringat mulai bercucuran sampai kena ke mata dan pedih. Langkah demi langkah gue percepat, terkadang berhenti mengambil nafas panjang sambil menunggu teman yang lain. 

Cahaya bulan tampak menerangi jalan setapak yang kami lalui, rintik air mulai turun perlahan dengan debit yang stabil ditengah perjalanan. Pepohonan dan ranting kering terlihat bersanding indah dengan cahaya rembulan. Sepanjang perjalanan menuju Kawah Ijen, terkadang kami disalip atau menyalipi para pendaki dan beberapa turis asing. Hal yang gue suka malam itu adalah, ada beberapa grup yang saling menyemangati temennya yang terengah engah mengambil nafas karena lelah. Ada yang berteriak memanggil temennya yang tertinggal di bawah, ada juga pendaki lucu yang memakai sarung dan menenteng speaker dengan lagu reggae di pundaknya.

                                           Suasana pendakian menuju Kawah Ijen

Pondok Bunder - Kawah ijen

Jalan setapak menuju kawah terbilang mulus dan tanpa hambatan, karena jalan ini menjadi jalan bagi para penambang belerang untuk menjemput rejeki. Ditengah malam saat semua orang terlelap dengan tempat tidur empuk beserta selimut hangat, para penambang harus keluar rumah, mendaki sampai ke bibir kawah dan turun menuju tempat penambangan untuk mengambil belerang. Pekerjaan ini sangat beresiko, karena penambang akan mencium bau belerang yang begitu menyengat dan bisa mengganggu pernafasan. Selain itu penambang bisa terjatuh jika posisi badan sempat oleng memikul belerang yang beratnya 80kg - 100kg. Perjuangan tentu belum usai, setelah mendapat belerang yang mereka kumpulkan di kedua bakul, nantinya akan mereka pikul naik ke atas, lalu membawa belerang turun dari kawah menuju Pos Paltuding. Untuk 1kg belerang dihargai 1000 rupiah. Bahkan bahu mereka sampai ada yang kapalan karena setiap hari memikul beban berat.

Jam 2.40 pagi kami sudah sampai di atas kawah dan beristirahat sejenak. Jam 3.00 pagi Pak Bahri mengajak kami turun menuju lokasi blue fire yang fenomenal. Blue fire atau api biru ini cuma ada di dua tempat di dunia, yang pertama di Iceland dan yang kedua di tanah kelahiran kita sendiri, yaitu Indonesia. Blue Fire ini suhunya mencapai 700 derajat celcius. Jalan menuju blue fire cukup berbahaya guys jika kita turun tanpa senter. Kondisi jalan yang menurun ini dipenuhi dengan bebatuan yang cukup licin saat dipijak, salah langkah sedikit, kita bisa jatuh. Beruntung kami membawa Pak Bahri, beliau sangat memperhatikan siapa yang patut ditolong dan beliau juga yang menuntun temen gue, sebut saja namanya Bunga, yang terlihat kesulitan berjalan diantara batu licin menuju spot blue fire. Setengah jam kemudian kami sudah bisa melihat api biru. Dengan peralatan seadanya, alhamdulillah yah, gue bisa mengabadikan moment indah api biru walaupun cuma dengan kamera handphone.

Blue Fire Kawah Ijen

Rasanya sayang kalau sudah jauh jauh datang tapi nggak ngeliat langsung gimana cara penambang mengambil belerang. Hampir sekitar 10 menit gue main main di bawah dan melihat proses pencungkilan belerang yang dilakukan para penambang. Eh eh, tetiba angin bertiup ke arah kami, bau belerang terasa menyengat dan membuat dada sedikit sesak. Dengan gesit gue capai masker yang gue kalungin di leher dan bernafas seperti biasa. Di sini gue sempat membeli oleh oleh yang sengaja dibawa oleh penambang Belerang. Saat itu gue bertemu dengan Pak Wito, beliau terlihat bersemangat menjajakan souvenir khas Kawah Ijen yang berbahan dasar belerang yang dibentuk menggunakan cetakan agar agar. Jadilah berbagai macam bentuk hewan seperti kepiting, kura kura, hello kitty, dan pesawat.

Buat kalian yang pengen pakai jasa guide, nih gue kasi no hp penambang belerang Kawah Ijen.
1. Pak Wito - 0822 5703 1552
2. Pak Muryanto - 0823 3410 6311

 zackamega.com bersama pak Wito, penambang belerang yang sekalian menjajakan souvenir berbahan dasar belerang.

Belerang Kawah Ijen

Selesai mengambil video, gue naik dan bergabung bersama rombongan di atas. Jarum jam menunjuk angka 4.45 pagi, suasana sudah mulai terang. Kami sempat menunggu sampai matahari terbit, tapi sayangnya cuaca saat itu berawan, jadi matahari terlihat malu dan bersembunyi dibalik awan. Jam 5.55 pagi kami bersiap turun menuju pos Paltuding dan mengucapkan selamat jalan kepada pak Bahri. Selesailah perjalanan mengunjungi Kawah Ijen. Di lain waktu dan kesempatan, gue rasanya pengen balik lagi deh ke sini.


Tak jauh diantara kepulan asap itulah para penambang mengambil belerang, menuruni jalan berbatu cadas dan berbahaya.

View Gunung Ranti diambil dari Kawah Ijen

livejournalofasad.com bersama Pak Bahri


Rian, Eka Dewi, Asad, Eka Handa, Zack

Perjalanan pulang 

12 komentar:

  1. beruntungnya eka dah kesana, Babang baru nyampe bromo 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Babang maenlah kesana, biar beruntung juga 🐰🐰.

      Hapus
  2. aaahhh keren banget blue fire nya, saia udah gak punya tenaga bwt turun, kedinginan banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Next mesti coba main kesana dan turun ke bawah sist, liat langsung blue firenya. Sensasinya beda, antara ngeliat langsung sama di foto, hehe.

      Hapus
  3. 2 api biru didunia 1 di Irlandia kalau gak salah yang satu dikawah ijen. Makin bangga aja di Indonesia :D
    viewnya joss banget mbak, jadi pengen. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Api birunya di Islandia Mas Eksa, mainlah ke Kawah Ijen, dekat tuh dari tempat tinggal Mas, asli keren disana ^-^.

      Hapus
  4. Belom pernah ke Ijen, mikirnya kuat gak ya naiknya. Udah tua cynt :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti kuat sist, kalau cape' tinggal istirahat bentar, perlahan tapi pasti. Dijamin sampai, hehe.

      Hapus
  5. dan kenapa aku lebih suka explore indonesia...ya karena bisa melihat kehidupan masyarakatnya kita disini..dan lebih senang uang kita kasi utk membayar jasa atau beli cinderamata dari mereka..setidaknya mereka bisa bawa pulang sesuatu dari para pengunjung....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju kak, selain itu masyarakat Indonesia orangnya ramah dan suka menolong ^-^.

      Hapus